Tuesday, December 1, 2009

Susahnya Jujur..??

Yap, inilah yang saya rasakan dan saya lihat ketika mengajar. Melihat beberapa teman-teman mahasiswa yang saya ajar ternyata tetap saja mencontek. Sebelum saya memberikan beberapa pertanyaan untuk dijawab, saya menekankan bahwa "Ini gak saya nilai kok, saya cuman pingin liat seberapa paham kalian terhadap materi yang saya sampaikan dari pertemuan kali ini" dan sekali lagi saya tekankan "Beneran, ini gak akan saya nilai, jadi kerjain sendiri-sendiri ya? Jangan ngeliat samping kanan kirinya. Gak bakal saya nilai kok, saya cuman ngenilai kejujuran kalian (sambil tersenyum)".

Jeng jeng jeng, waktu pengerjaan soal telah habis. Waktunya pengumpulan lembar jawaban. Sebelum waktu habis, saya melihat ada beberapa dari temen-temen dalam satu kelas yang tetap saja melihat kanan kiri atau bahkan melihat laptopnya untuk menyalin "codingan" ke lembar jawab. Sesekali saya peringatkan "Ini gak bakalan saya nilai, beneran". Astaga!! Ternyata tetap saja ada beberapa temen-temen yang tetap mencontek.

Saya mulai berpikir, apa sih yang dipikiran temen-temen mahasiswa yang saya ajar sehingga dia tetep saja mencontek, padahal saya sudah menekankan berkali-kali. Ada beberapa pemikiran dipikiran saya :
1. Saya kurang bisa meyakinkan temen-temen mahasiswa bahwa yang mereka kerjakan tidak akan saya nilai?
2. Temen-temen mahasiswa mengira ini akan dinilai meskipun saya mengatakan tidak akan dinilai?
3. Muka saya yang menyeramkan sehingga membuat temen-temen mahasiswa takut? hahahaha
4. Apa memang temen-temen mahasiswa tidak punya kepercayaan diri sehingga jalan satu-satunya ya mencontek?
5. dll.

Sebenernya emang susah sih kalo karakter gak jujur tu udah melekat di diri pribadi. Jujur, saya sendiri pun merasakannya. Tapi, saya sendiri saat ini sedang mencoba untuk menghilangkan karakter itu. Mulai mencoba pada saat ujian contohnya, ditanamkan dalam diri saya "Saya tidak akan mencontek, dan jika nilai saya jelek, itu kesalahan saya yang kurang mempersiapkannya dengan baik. Bukan kesalahan pengawas, dosen, dll."

Logika:

1. Jika kita kurang persiapan, waktu ujian kita tetep mengerjakan semampu kita tanpa mencontek.
----> Kalo menurut saya, dengan kita mengerjakan semampu kita, tapi ternyata mendapatkan nilai jelek. Ini menjadi pelajaran buat kita. Kita bisa intropeksi diri "Apa ya yang menyebabkan nilai saya jelek?" "Oooo, saya kurang mempersiapkan diri. Ok, kalau begitu besok saya harus lebih mempersiapkan diri".

2. Jika kita kurang persiapan, waktu ujian kita mencontek untuk bisa mengerjakan soal ujian.
----> Kalo menurut saya, jika kita mencontek pada saat ujian lalu mendapatkan nilai bagus. Orang itu akan senang dan tidak akan merasa bersalah jika orang tersebut mendapatkan nilai bagus dengan mencontek bukan dengan belajar sungguh-sungguh. Orang-orang seperti ini tidak akan mendapatkan pelajaran tentang kesalahan. Dan berpikir "Asik, nilai saya bagussssssss". Dan mereka akan selalu enjoy dengan perbuatannya (mencontek). Ini lama kelamaan tanpa disadari atau tidak akan menjadi sebuah karakter yang susah untuk dirubah karena pelakunya sudah merasakan nyaman dan senang karna perbuatannya.

Sebenernya kesalahan itu sebuah angurah lho (itu menurut saya). Dengan kita mempunyai kesalahan, kita dapat mempelajarinya. =)

Kembali lagi ke temen-temen mahasiswa yang saya ajar. Mereka tetap saja mencontek. Diakhir pertemuan, setelah semua lembar jawaban terkumpul saya biasanya memberikan sekumpulan kata-kata yang tidak berhubungan sama sekali dengan mata kuliah yang saya ajarkan. Kalo dikatakan kata-kata motivasi ya nggak juga, sebuah kata-kata gak penting juga gak juga. hehehehe.
Saya bilang "Ternyata, tadi saya banyak ngeliat temen-temen masih ada yang mencontek. Padahal beberapa kali saya tekankan bahwa saya tidak akan menilai hasil dari yang kalian kerjakan. Tapi saya akan menilai seberapa paham kalian terhadap materi yang saya sampaikan dalam pertemuan ini. Misalkan dengan kalian jujur dengan kemampuan kalian sendiri, kita sama-sama menguntungkan kok. Misalkan ternyata setelah saya liat hasil pengerjaan kalian ternyata masih banyak salah, mungkin bisa jadi itu kesalahan saya dalam mengajar atau kesalahan kalian kurang memahami materi. Ini bisa jadi bahan intropeksi diri kita masing-masing (sambil tersenyum)." Dan tak lama terdiam sambil saya tersenyum, saya bertanya "Apa sih yang membuat kalian tetap mencontek? Apa karena kalian gak paham? ato kalian gak percaya terhadap kemampuan diri sendiri?". Pesan terakhir yang saya sampaikan "Kalau kalian gak percaya terhadap diri sendiri, bagaimana kalian bisa dipercaya oleh orang lain, misalkan menjadi pemimpin." Dan gak lupa sambil tersenyum. Tetep tersenyum. Hehehehe biarin aja dikira orang gila karena sering senyum. Daripada menyampaikan kata-kata itu dengan muka marah, cemberut hayoooo.. hehehehe

No comments: